Tekanan Darahnya Bagus, Tapi Pasien Jatuh Dua Kali: Apotekernya Harus Curiga Apa?

Angka 118/70 mmHg terlihat cantik di rekam medis. Tetapi ketika pasien berdiri, tekanan darah turun dan dunia ikut terasa berputar. Masih mau bilang terapinya “terkontrol”?

banner 468x60

CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – “Pak Apoteker, tekanan darah saya sekarang bagus. Tapi kok kalau bangun dari tempat tidur sering pusing? Bulan ini saya sudah jatuh dua kali.” Mari lihat kasusnya. Laki-laki, 74 tahun, menggunakan amlodipine 10 mg, lisinopril 20 mg, hydrochlorothiazide 25 mg, doxazosin 4 mg malam, furosemide 40 mg, kalium klorida ER, serta beberapa obat lain.

Tekanan darah saat duduk 118/70 mmHg. Bagus? Tunggu dulu. Saat berdiri menjadi 94/58 mmHg. Tekanan sistolik turun 24 mmHg dan diastolik 12 mmHg. Secara definisi, penurunan tekanan darah ≥20 mmHg sistolik atau ≥10 mmHg diastolik dalam tiga menit setelah berdiri konsisten dengan hipotensi ortostatik. Nah, jangan lihat angka 118/70 lalu buru-buru memberi stempel: “Hipertensi terkontrol. Lanjutkan.” Pasien kita bukan angka yang duduk manis di kursi pemeriksaan.

banner 336x280

Sekarang coba baca daftar obatnya seperti apoteker, bukan seperti petugas absensi obat. Amlodipine—ada. Lisinopril—ada. Hydrochlorothiazide—ada. Doxazosin—ada. Furosemide—ada. Pertanyaannya bukan, “Obat hipertensinya ada berapa?” tetapi mengapa masing-masing obat masih digunakan dan apa kontribusinya terhadap keluhan pasien hari ini? Doxazosin layak mendapat perhatian khusus.

AGS Beers Criteria 2023 menempatkan alpha-1 blocker nonselektif seperti doxazosin sebagai obat yang perlu dihindari sebagai antihipertensi rutin pada lansia karena tingginya risiko hipotensi ortostatik dan dampak terkait.

Ditambah dua diuretik—hydrochlorothiazide dan furosemide—apoteker seharusnya mulai bertanya: “Apa indikasi furosemide? Ada gagal jantung? Ada edema? Bagaimana status cairan pasien? Mengapa kalium 3,4 mmol/L?” Clinical reasoning dimulai dari rasa curiga yang sehat, bukan dari keinginan cepat-cepat menghentikan obat.

Lalu mata kita pindah ke ibuprofen PRN. Nah, daftar obat ini ternyata masih menyimpan satu jebakan. Pasien menggunakan lisinopril + diuretik + NSAID. Kombinasi penghambat sistem renin-angiotensin, diuretik, dan NSAID dikenal sebagai triple whammy dan dikaitkan dengan peningkatan risiko acute kidney injury.

Dengan eGFR 48 mL/menit/1,73 m², pasien berusia 74 tahun, serta terapi diuretik, pertanyaan apoteker mulai bertambah: seberapa sering ibuprofen diminum? Untuk nyeri apa? Bagaimana kreatinin sebelumnya? Apakah pasien cukup minum? Bahkan aspirin 81 mg juga jangan sekadar dilewati karena dosisnya kecil. “Indikasinya apa? Pencegahan sekunder atau hanya karena dulu seseorang bilang aspirin bagus untuk jantung?” Satu daftar obat bisa menyimpan banyak cerita—kalau kita mau berhenti dan membacanya.

Kalau kasus ini ada di meja saya, saya tidak akan langsung berkata, “Stop doxazosin! Stop furosemide! Stop ibuprofen!” Apoteker bukan koboi farmakoterapi yang menembak obat satu per satu. Saya akan memastikan teknik dan waktu pengukuran tekanan darah ortostatik, menelusuri indikasi setiap antihipertensi dan diuretik, mengkaji status cairan, riwayat jatuh, penggunaan ibuprofen aktual, fungsi ginjal dan elektrolit, lalu mendiskusikan kebutuhan optimasi atau deprescribing terarah bersama dokter dan tim.

Karena target terapi bukan sekadar membuat angka tekanan darah terlihat cantik. Targetnya adalah pasien mendapat manfaat terapi tanpa harus membayarnya dengan pusing, jatuh, cedera, atau risiko obat yang sebenarnya bisa dicegah.

Catatan Apoteker Subagiyo:
Tekanan darah yang “bagus” di rekam medis belum tentu berarti terapi pasien sudah bagus. Sesekali, minta pasien berdiri—lalu lihat ceritanya berubah.

Apoteker Subagiyo
Sahabat Sehat, Terapi Tepat

#MakePharmacistMoreExist

Subagiyo.com — Belajar Farmasi Tanpa Ribet, Tetap Berbobot.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *