Ketika Rencana Sederhana Berubah Arah
Selesai mengantar puteri mengikuti UTUL UGM di Saharjo, Jakarta Selatan, tugas utama hari itu sebenarnya sudah berakhir. Ujian telah dimulai, rasa tegang perlahan berkurang, dan perut mulai mengingatkan bahwa waktu makan siang (kesorean) semakin dekat.
Sebelum berangkat dari rumah, saya sudah menyimpan satu tujuan kuliner di kepala: Bakso Gepeng 88 Pak Iman di Rawamangun.
Rencana itu terdengar sederhana. Dari Saharjo langsung menuju Rawamangun, menikmati semangkuk bakso, lalu pulang ke Cileungsi.
Namun seperti banyak hal dalam kehidupan, rencana sering kali berubah hanya karena satu kalimat.
“Penginnya yang ada nasinya.”
Permintaan itu tidak panjang, tetapi cukup untuk mengubah arah perjalanan.
Bakso yang sejak pagi sudah terbayang di kepala perlahan tersingkir. Pencarian tempat makan baru pun dimulai.
Google Maps Tidak Selalu Menjawab Segalanya
Telepon genggam segera berpindah tangan. Google Maps dibuka. Beberapa lokasi muncul di layar.
Ada yang terlihat menarik, tetapi terlalu jauh. Ada yang dekat, tetapi rutenya membuat saya sedikit ragu. Bukan soal macet atau jalan rusak. Kekhawatirannya lebih sederhana: jangan sampai masuk jalur ganjil genap.
Sebagai orang yang tidak setiap hari berkendara di pusat Jakarta, saya selalu merasa aturan ganjil genap memiliki kemampuan unik untuk muncul pada saat yang tidak tepat.
Peta digital memang pintar mencari rute tercepat. Namun urusan membuat pengemudi tenang ternyata tidak selalu masuk algoritma.
Beberapa kali saya memperbesar peta.
Beberapa menit kemudian peta diperkecil lagi.
Rute pertama terlihat aman, lalu mendadak muncul keraguan.
Bagaimana kalau ternyata harus melewati ruas tertentu?
Bagaimana kalau ada kamera pengawas, ETEL kata ibunya anak-anak?
Bagaimana kalau salah belok?
Pertanyaan-pertanyaan kecil itu akhirnya lebih banyak mengundang tawa daripada kepanikan.
Untungnya hari itu tidak ada jadwal yang harus dikejar.
Cerita yang Tidak Ada di Google Maps
Di tengah kebingungan menentukan arah, saya justru menyadari bahwa perjalanan keluarga selalu memiliki cara unik untuk menciptakan cerita.
Ketika masih muda, saya menganggap perjalanan hanya sebagai perpindahan dari satu titik ke titik lain.
Sekarang pandangannya sedikit berbeda.
Jalan yang dilalui sering kali bukan bagian paling menarik dari sebuah perjalanan. Yang membuatnya berkesan justru percakapan di dalam mobil, candaan yang muncul tanpa rencana, dan keputusan-keputusan kecil yang lahir secara spontan.
Google Maps dapat menunjukkan lokasi tujuan.
Namun aplikasi itu tidak pernah mencatat siapa yang tertawa selama perjalanan.
Ia juga tidak merekam perdebatan ringan tentang tempat makan atau alasan mengapa sebuah rencana akhirnya berubah.
Cerita-cerita semacam itu hanya tersimpan dalam ingatan para penumpangnya.
Tentang Bakso yang Tertunda
Pada akhirnya kami menemukan tempat makan yang memenuhi syarat paling penting hari itu.
Ada nasinya.
Soal nama tempatnya, jujur saja, saya mulai lupa.
Yang masih tersimpan jelas justru cerita di balik pencarian tempat makan tersebut.
Bakso Gepeng 88 Pak Iman yang harus ditunda.
Peta digital yang membuat kami beberapa kali berubah pikiran.
Jalur ganjil genap yang terus menghantui perencanaan rute.
Dan tentu saja obrolan-obrolan ringan yang muncul sepanjang perjalanan.
Beberapa hari setelahnya saya hampir tidak mengingat apa yang dimakan siang itu.
Rasa makanan perlahan memudar dari ingatan.
Anehnya, perjalanan menuju tempat makan justru tetap tinggal.
Mungkin memang begitu cara kerja kenangan.
Kita berangkat karena ingin mencari makanan.
Tetapi yang akhirnya dibawa pulang adalah cerita.








