Ketika Obat yang Menolong Justru Mengganggu Jantung

Tidak semua efek samping muncul di lambung atau kulit. Sebagian diam-diam terjadi pada organ yang bekerja tanpa pernah meminta istirahat.

Farmasi154 Dilihat
banner 468x60

CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – Suatu hari seorang pasien datang dengan keluhan berdebar-debar. Beberapa hari sebelumnya ia baru mendapatkan beberapa obat baru dari dokter.

Pasien lain datang dengan keluhan berbeda. Ia merasa lebih cepat lelah, pusing saat berdiri, bahkan hampir pingsan ketika berjalan ke kamar mandi.

banner 336x280

Sebagian orang mungkin langsung mengaitkannya dengan penyakit jantung. Padahal, dalam beberapa kasus, penyebabnya justru berasal dari obat yang sedang digunakan.

Inilah sisi lain dunia pengobatan yang jarang dibicarakan.

Ketika obat menyelamatkan satu masalah kesehatan, terkadang ia juga membawa risiko pada sistem tubuh yang lain.

Salah satunya adalah sistem kardiovaskular atau sistem jantung dan pembuluh darah.

Menurut materi yang disampaikan Halim Priyahau Jaya dari Instalasi Farmasi RSUD Dr. Soetomo, efek samping obat pada sistem kardiovaskular bukanlah kejadian yang langka. Bahkan sebagian kasus dapat berakhir serius apabila tidak dikenali sejak awal. Pasien yang menerima banyak obat sekaligus atau mengalami polifarmasi memiliki risiko yang lebih tinggi.

Jantung yang Terlalu Lambat

Kita sering khawatir jika jantung berdetak terlalu cepat.

Padahal jantung yang terlalu lambat juga bisa menjadi masalah.

Kondisi ini dikenal sebagai bradikardi, yaitu ketika denyut jantung turun di bawah 60 kali per menit. Pada beberapa orang, keadaan ini dapat menyebabkan pusing, sesak napas, bahkan pingsan karena aliran darah ke tubuh tidak lagi optimal.

Yang menarik, beberapa obat yang sering digunakan dalam praktik sehari-hari dapat memicu kondisi tersebut. Digoksin, beta blocker, penghambat kanal kalsium seperti verapamil dan diltiazem, hingga beberapa obat antiaritmia termasuk dalam daftar yang perlu diwaspadai.
Namun dunia medis tidak sesederhana menghentikan obat begitu saja.

Sering kali obat yang dicurigai menyebabkan bradikardi justru merupakan obat yang penting untuk menjaga kondisi pasien tetap stabil. Di sinilah dokter dan apoteker harus menimbang manfaat dan risiko secara hati-hati.

Ketika Jantung Berlari Terlalu Cepat

Di sisi lain, ada pula kondisi yang disebut takikardi, ketika denyut jantung melebihi 100 kali per menit.

Yang mengejutkan, beberapa obat yang mudah ditemukan ternyata dapat memicunya.

Pseudoefedrin yang sering digunakan untuk pilek, teofilin pada obat asma, hingga beberapa obat hipertensi tertentu dapat meningkatkan denyut jantung melalui berbagai mekanisme.

Tidak heran jika sebagian pasien mengeluh berdebar setelah mengonsumsi obat tertentu.

Masalahnya, banyak orang menganggap semua keluhan berdebar hanyalah efek sementara yang akan hilang sendiri.

Padahal pada sebagian kasus, gangguan irama jantung dapat berkembang menjadi kondisi yang jauh lebih serius.

Secangkir Kopi dan Irama Jantung

Bagian yang menarik dari materi tersebut adalah pembahasan mengenai fibrilasi atrium.

Gangguan irama jantung ini dapat meningkatkan risiko stroke dan gagal jantung apabila tidak ditangani dengan baik.

Salah satu faktor yang disebutkan adalah konsumsi kafein dalam jumlah besar. Kafein yang terdapat dalam kopi, teh, cokelat, minuman energi, bahkan beberapa obat pereda nyeri kepala dapat meningkatkan risiko gangguan irama pada individu tertentu.

Tentu ini bukan berarti setiap peminum kopi akan mengalami fibrilasi atrium.

Namun informasi tersebut mengingatkan bahwa sesuatu yang tampak biasa dalam kehidupan sehari-hari tetap perlu dikonsumsi secara bijak.

Efek Samping yang Tidak Terlihat

Sebagian efek samping obat tidak menimbulkan keluhan yang jelas.

Pasien merasa baik-baik saja.

Tidak pusing.

Tidak nyeri.

Tidak sesak.

Namun pada pemeriksaan EKG, interval QT memanjang.

Bagi orang awam, istilah ini mungkin terdengar asing. Namun bagi tenaga kesehatan, pemanjangan interval QT merupakan tanda yang perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan risiko gangguan irama jantung berbahaya seperti Torsade de Pointes. Risiko meningkat ketika QT terkoreksi melebihi 500 milidetik.
Yang membuatnya menarik, pemanjangan QT dapat dipicu oleh berbagai obat, mulai dari antiaritmia, antibiotik tertentu, antipsikotik, antidepresan, hingga beberapa obat anestesi.

Karena itulah pemeriksaan dan pemantauan pasien sering kali lebih penting daripada yang terlihat di permukaan.

Obat Tidak Pernah Bekerja Sendirian

Mungkin pelajaran terbesar dari seluruh pembahasan ini adalah bahwa obat tidak pernah bekerja dalam ruang kosong.

Setiap tablet, kapsul, atau suntikan masuk ke tubuh yang memiliki kondisi berbeda-beda.

Usia pasien berbeda.

Penyakit penyerta berbeda.

Jumlah obat yang digunakan berbeda.

Respons tubuh pun berbeda.

Karena itu dua pasien yang mengonsumsi obat yang sama belum tentu mengalami hasil yang sama.

Di era ketika informasi kesehatan begitu mudah ditemukan di media sosial, kita sering melihat obat hanya dari manfaatnya. Padahal setiap obat selalu memiliki dua sisi: manfaat yang diharapkan dan risiko yang perlu dipantau.

Untungnya, sebagian besar efek samping dapat dikenali lebih awal apabila pasien, dokter, dan apoteker sama-sama aktif berkomunikasi.

Kadang-kadang, keselamatan pasien tidak ditentukan oleh obat yang paling mahal atau teknologi yang paling canggih.

Melainkan oleh satu pertanyaan sederhana:

“Apakah ada perubahan yang Anda rasakan setelah mulai menggunakan obat ini?”

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed