CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – Suatu pagi, seorang pria berusia 68 tahun hampir terjatuh saat bangun dari tempat tidur.
Tubuhnya terasa sangat lemas. Kepalanya berputar. Saat mencoba berdiri, pandangannya mendadak gelap. Beruntung anggota keluarga berada di dekatnya dan segera membantu sebelum ia benar-benar jatuh.
Bagi keluarganya, kejadian itu tentu menimbulkan kekhawatiran. Selama ini ia dikenal sebagai pasien yang patuh berobat. Riwayat hipertensi dan gagal jantungnya cukup terkontrol. Tidak ada perubahan aktivitas yang berarti. Tidak ada pula keluhan baru pada malam sebelumnya.
Satu-satunya hal yang berbeda hanyalah obat yang diminum malam itu.
Keluarga kemudian menghubungi apotek tempat pasien memperoleh obat rutinnya. Mereka khawatir penyakit jantungnya memburuk atau terjadi sesuatu yang lebih serius.
Pertanyaan seperti ini sebenarnya cukup sering muncul dalam pelayanan kesehatan.
Ketika kondisi pasien tiba-tiba berubah, perhatian biasanya langsung tertuju pada penyakit yang diderita. Padahal, ada satu kemungkinan lain yang tidak boleh diabaikan: apakah masalahnya berasal dari obat yang digunakan?
Proses penelusuran kemudian dilakukan. Resep dokter menunjukkan bahwa pasien seharusnya menerima bisoprolol 2,5 mg dan ramipril 5 mg. Namun setelah dilakukan pencocokan terhadap obat yang dibawa pasien, ditemukan bahwa yang diterima justru bisoprolol 5 mg dan ramipril 10 mg.
Sekilas perbedaan itu tampak tidak terlalu besar.
Hanya dua angka yang berbeda.
Namun dalam terapi penyakit kardiovaskular, dua angka tersebut dapat menghasilkan dampak klinis yang sangat berbeda.
Bisoprolol merupakan obat golongan beta-blocker yang membantu memperlambat denyut jantung dan mengurangi beban kerja jantung. Sementara ramipril termasuk golongan ACE inhibitor yang berperan menurunkan tekanan darah dan memberikan perlindungan terhadap fungsi jantung. Kedua obat ini memiliki manfaat besar bagi pasien hipertensi dan gagal jantung apabila digunakan sesuai dosis yang direncanakan.
Masalah muncul ketika dosis yang diterima pasien lebih tinggi dari yang diresepkan.
Denyut jantung dapat menjadi terlalu lambat. Tekanan darah dapat turun lebih rendah dari yang diharapkan. Akibatnya pasien merasa lemas, pusing, mudah kehilangan keseimbangan, bahkan berisiko mengalami sinkop atau pingsan.
Bagi pasien usia lanjut, kondisi tersebut bukan sekadar ketidaknyamanan sementara. Satu kali jatuh dapat menyebabkan patah tulang, perawatan di rumah sakit, hilangnya kemandirian, hingga penurunan kualitas hidup yang berkepanjangan.
Kasus seperti ini mengingatkan bahwa keselamatan pasien sering kali ditentukan oleh hal-hal yang tampak sederhana. Bukan selalu oleh teknologi yang canggih, alat yang mahal, atau terapi yang kompleks.
Kadang keselamatan pasien bergantung pada satu proses yang terlihat sangat biasa: memastikan obat yang diterima benar-benar sesuai dengan yang diresepkan.
Di sinilah peran apoteker menjadi sangat penting.
Dalam praktik Pharmaceutical Care, apoteker tidak hanya bertugas menyerahkan obat kepada pasien. Apoteker juga bertanggung jawab melakukan verifikasi resep, memastikan kesesuaian kekuatan dosis, mengidentifikasi potensi Drug Related Problems (DRP), serta mencegah terjadinya Adverse Drug Events (ADEs) yang dapat membahayakan pasien.
Banyak proses tersebut berlangsung di belakang layar dan sering tidak disadari oleh pasien. Namun justru proses itulah yang menjadi salah satu lapisan perlindungan penting dalam menjaga keselamatan terapi.
Karena itu, setiap kali melihat angka kecil pada kemasan obat, saya selalu teringat bahwa di balik angka tersebut tersimpan tanggung jawab yang besar.
Pasien mungkin hanya melihat obat yang harus diminum.
Apoteker melihat potensi manfaat sekaligus potensi risiko yang harus dijaga.
Dan sering kali, perbedaan antara keduanya hanya dipisahkan oleh satu angka kecil yang nyaris tidak terlihat.
SOAP Apoteker
Subjective (S)
- Pasien mengeluhkan lemas, pusing, dan hampir pingsan setelah mengonsumsi obat rutin.
- Keluhan muncul pada pagi hari setelah penggunaan obat malam sebelumnya.
Objective (O)
- Pasien laki-laki, 68 tahun.
- Riwayat hipertensi dan gagal jantung.
- Ditemukan ketidaksesuaian antara resep dan obat yang diterima:
- Bisoprolol 2,5 mg → diterima 5 mg.
- Ramipril 5 mg → diterima 10 mg.
- Gejala mengarah pada hipotensi simptomatik dan bradikardia.
Assessment (A)
- Drug Related Problems (DRP): Drug Related Problems (DRP) berupa wrong drug strength.
- Potensi Adverse Drug Events (ADEs): Adverse Drug Events (ADEs) berupa hipotensi, bradikardia, sinkop, dan risiko jatuh.
- Dugaan dispensing error yang memerlukan investigasi lebih lanjut.
Plan (P)
- Verifikasi ulang resep, etiket, dan obat yang diserahkan.
- Menghubungi dokter penanggung jawab pasien.
- Melakukan evaluasi tekanan darah dan denyut nadi pasien.
- Mendokumentasikan kejadian sebagai insiden keselamatan pasien.
- Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga untuk selalu memeriksa nama dan kekuatan dosis obat sebelum digunakan.











