Mengapa Dokter dan Apoteker Harus Duduk di Meja yang Sama?

Karena keselamatan pasien sering kali ditentukan oleh percakapan yang tidak pernah dilihat pasien.

banner 468x60

CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – Beberapa tahun lalu saya pernah mendengar seorang pasien berkata,

“Kalau sudah ada dokter yang hebat, buat apa ada apoteker?”

banner 336x280

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Semakin lama saya berkecimpung di dunia farmasi dan pendidikan kesehatan, semakin saya menyadari bahwa tidak ada profesi yang mampu bekerja sendirian dalam memberikan pelayanan terbaik kepada pasien.

Tidak ada dokter yang bisa bekerja sendirian.

Tidak ada apoteker yang bisa bekerja sendirian.

Dan tidak ada pasien yang ingin menjadi korban karena tenaga kesehatan gagal berkomunikasi.

Di atas kertas, dokter bertugas menegakkan diagnosis dan menentukan tujuan terapi. Sementara apoteker memastikan obat yang dipilih benar-benar aman, efektif, tepat dosis, tepat pasien, dan memberikan hasil yang diharapkan.

Keduanya sebenarnya sedang menuju tujuan yang sama.

Menyembuhkan pasien.

Kesalahan Obat Masih Terjadi Setiap Hari

Banyak orang mengira kesalahan obat selalu disebabkan oleh kelalaian.

Faktanya tidak sesederhana itu.

Kesalahan dapat terjadi saat obat diresepkan, disiapkan, diberikan, hingga saat pasien pulang dari rumah sakit. Bahkan penelitian menunjukkan bahwa ketidaksesuaian obat saat perpindahan pelayanan dan saat pasien pulang masih cukup sering ditemukan. Intervensi apoteker mampu mengidentifikasi dan memperbaiki banyak masalah tersebut.

Di sinilah saya sering melihat nilai sebenarnya dari kolaborasi.

Bukan tentang siapa yang membuat keputusan.

Tetapi tentang siapa yang mampu menemukan potensi masalah sebelum masalah itu mengenai pasien.

Apoteker Tidak Hanya Menghitung Dosis

Masih ada yang beranggapan bahwa tugas apoteker hanya menyiapkan obat.

Padahal praktik farmasi klinik telah berkembang jauh.

Seorang apoteker klinis melakukan pengumpulan data pasien, mengevaluasi terapi, mengidentifikasi drug related problems, menyusun rekomendasi, memantau hasil terapi, dan mendiskusikannya bersama dokter serta tenaga kesehatan lainnya.

Dalam banyak kasus, apoteker justru menjadi “lapisan pengaman terakhir” sebelum obat diberikan kepada pasien.

Ketika dosis terlalu tinggi.

Ketika fungsi ginjal berubah.

Ketika ada interaksi obat yang berpotensi berbahaya.

Ketika antibiotik perlu dihentikan.

Atau ketika pasien sebenarnya tidak lagi membutuhkan obat tertentu.

Data Berbicara Lebih Keras daripada Pendapat

Diskusi mengenai pentingnya farmasi klinik sering kali dianggap sekadar idealisme profesi.

Namun data menunjukkan hal yang berbeda.

Keterlibatan apoteker dalam perawatan pasien kritis dengan infeksi dikaitkan dengan penurunan mortalitas, pemendekan lama rawat ICU, dan penghematan biaya pelayanan kesehatan dalam jumlah yang sangat besar.

Penelitian lain menunjukkan bahwa keberadaan apoteker dalam clinical rounds ICU mampu menurunkan kejadian adverse drug events yang dapat dicegah hingga sekitar 66 persen.

Artinya, kolaborasi bukan sekadar konsep akademik.

Kolaborasi menyelamatkan nyawa.

Teknologi Tidak Akan Menggantikan Kolaborasi

Saat ini rumah sakit mulai menggunakan berbagai teknologi seperti Computerized Physician Order Entry (CPOE), Clinical Decision Support System, electronic Medication Administration Record (eMAR), dan Bar Code Medication Administration (BCMA) untuk meningkatkan keselamatan pasien.

Teknologi memang membantu.

Tetapi teknologi tidak bisa menggantikan percakapan antara dokter dan apoteker ketika menghadapi pasien yang kondisinya berubah dari menit ke menit.

Teknologi tidak bisa menggantikan penilaian klinis.

Dan teknologi tidak bisa menggantikan rasa tanggung jawab profesional terhadap keselamatan pasien.

Pada Akhirnya, Pasien Tidak Peduli Siapa yang Benar

Pasien tidak datang ke rumah sakit untuk melihat profesi mana yang paling dominan.

Pasien datang dengan harapan sederhana.

Mereka ingin sembuh.

Mereka ingin selamat.

Karena itu pelayanan kesehatan terbaik bukanlah pelayanan yang menonjolkan satu profesi di atas profesi lain.

Pelayanan terbaik adalah ketika dokter, apoteker, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya duduk dalam satu meja, membahas satu pasien, dan mengambil keputusan terbaik bersama-sama.

Sebab pada akhirnya, yang diingat pasien bukan siapa yang paling pintar.

Tetapi siapa yang benar-benar peduli.

SOAP Apoteker

S (Subjective)

  • Masih terdapat persepsi bahwa peran apoteker hanya menyiapkan atau menyerahkan obat.
  • Kolaborasi dokter dan apoteker belum optimal di sebagian fasilitas pelayanan kesehatan.

O (Objective)

  • Farmasi klinik berfokus pada pelayanan berpusat pada pasien (patient-centered) dan berorientasi pada luaran (outcome-oriented).
  • Apoteker klinis berperan dalam pengumpulan data, evaluasi terapi, penyusunan rencana, implementasi, serta monitoring terapi.
  • Keterlibatan apoteker pada pasien ICU dengan infeksi berhubungan dengan penurunan mortalitas dan lama rawat.

A (Assessment)

  • Kolaborasi interprofesional merupakan faktor penting dalam meningkatkan keselamatan pasien.
  • Farmasi klinik memberikan manfaat klinis, ekonomi, dan keselamatan pasien yang terukur.

P (Plan)

  • Memperkuat kolaborasi dokter–apoteker dalam pelayanan pasien.
  • Mengembangkan layanan farmasi klinik berbasis pharmaceutical care.
  • Memanfaatkan teknologi untuk mendukung medication safety.
  • Meningkatkan keterlibatan apoteker dalam clinical rounds dan medication reconciliation.
banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *