Bagian 1: Mengantar Puteri Mengikuti UTUL UGM
Pagi itu kami berangkat dari Cileungsi menuju Jakarta Selatan. Tujuannya bukan Yogyakarta seperti yang mungkin dibayangkan banyak orang ketika mendengar kata UGM. Kami menuju Gedung UGM di kawasan Saharjo, sebuah lokasi yang oleh Google Maps bahkan lebih mudah ditemukan dengan nama “UGM Wedding Hall Tebet“.
Tujuan kami sederhana: mengantar puteri mengikuti Ujian Tulis Universitas Gadjah Mada (UTUL UGM), sekarang lebih resmi dikenal sebagai UM UGM CBT.
Perjalanan berlangsung cukup lancar. Di dalam mobil tidak banyak percakapan. Saya hanya memastikan kartu peserta, alat tulis, dan berbagai keperluan sudah lengkap. Selebihnya kami menikmati perjalanan dalam diam. Ada kalanya orang tua tidak perlu menjadi motivator. Hadir dan menemani mungkin sudah cukup.
Sesampainya di lokasi, suasana sudah ramai. Ratusan peserta datang dengan harapan masing-masing. Ada yang terlihat tenang, ada yang tampak sibuk membuka catatan terakhir, ada pula yang berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Ketika puteri memasuki ruang ujian, saya mendadak sadar bahwa waktu berjalan sangat cepat. Rasanya belum lama saya sendiri berada di posisi yang sama: menjadi peserta yang menatap masa depan dari balik meja ujian. Kini saya berada di luar ruangan, menjadi bagian dari kelompok orang tua yang hanya bisa menunggu.
Dan ternyata, menunggu tidak pernah benar-benar mudah.
Di sela menunggu itulah pikiran mulai berjalan ke berbagai arah.
Bagian 2: Kilas Balik Uji Kompetensi Apoteker Metode OSCE
Gedung di Saharjo itu bukan tempat yang asing bagi saya.
Jauh sebelum menjadi lokasi UTUL UGM, tempat tersebut berkali-kali menjadi lokasi pelaksanaan Uji Kompetensi Apoteker Indonesia. Banyak apoteker mengenal tempat itu bukan karena UTUL, melainkan karena OSCE dan OSPE.
Bagi masyarakat umum, istilah OSCE mungkin terdengar asing. Namun bagi calon apoteker, empat huruf itu mampu membuat jantung berdetak sedikit lebih cepat.
Saya masih ingat suasana ketika ratusan peserta datang dari berbagai daerah. Ada yang menginap sejak malam sebelumnya. Ada yang datang berkelompok. Ada yang membawa buku catatan sampai menit-menit terakhir sebelum ujian dimulai.
Di tempat yang sama berkumpul harapan, kecemasan, optimisme, dan tentu saja biaya yang tidak sedikit. Jutaan rupiah dikeluarkan untuk registrasi, perjalanan, penginapan, dan berbagai kebutuhan lainnya. Tidak ada yang datang untuk sekadar mencoba-coba. Semua datang membawa mimpi yang sama: menjadi apoteker.
Karena itu ketika melihat ratusan peserta UTUL UGM siang itu, saya merasakan suasana yang tidak jauh berbeda. Bedanya hanya pada tahap perjalanan hidup mereka.
Peserta UTUL sedang berjuang masuk ke dunia pendidikan tinggi.
Peserta OSCE/OSPE berjuang menyelesaikan perjalanan panjang pendidikan profesinya.
Namun keduanya sama-sama sedang berdiri di depan sebuah pintu yang mereka harapkan akan terbuka.
Mungkin itulah sebabnya saya masih percaya bahwa UGM tetap memiliki daya tarik tersendiri. Di tengah berbagai polemik yang selama empat tahun terakhir mengiringi pemberitaan tentang ijazah Presiden Joko Widodo, saya tetap melihat sesuatu yang lebih besar.
Saya masih percaya Yu Ji Em masih biru.
Biru yang membuat ribuan anak muda setiap tahun rela belajar keras demi mendapatkan kesempatan menjadi bagian darinya.
Bagian 3: Ketika Gelar dan Nama Kampus Menjadi Kebanggaan
Menunggu memang sering memunculkan kenangan yang sudah lama tersimpan.
Entah mengapa siang itu saya teringat pada masa ketika banyak akademisi memiliki kebiasaan menuliskan asal perguruan tinggi di belakang gelar.
Saya termasuk salah satunya.
Nama saya pernah ditulis cukup panjang:
Ahmad Subagiyo, S.Si. (UI), Apt (UI) (saat itu gelar Apt masih dituliskan di belakang nama, red)
Pada masa itu, praktik seperti ini bukan sesuatu yang aneh. Bahkan pernah mendapat dorongan kuat dari Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro ketika menjabat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi. Menyebutkan asal perguruan tinggi dianggap sebagai bentuk kebanggaan akademik sekaligus pengakuan terhadap institusi yang membentuk perjalanan seseorang.
Mungkin bagi generasi sekarang hal itu terasa berlebihan.
Namun bagi kami yang mengalaminya, ada rasa bangga yang sulit dijelaskan ketika nama kampus ikut menyertai nama pribadi.
Bukan semata-mata soal gengsi.
Lebih kepada rasa hormat terhadap tempat kita belajar, jatuh bangun mengerjakan tugas, menghadapi ujian, menyelesaikan skripsi, hingga akhirnya memperoleh gelar.
Saya masih ingat salah satu kenangan yang melekat ketika berinteraksi dengan almarhum Prof. Dr. Ibnu Gholib Gandjar, DEA, Apt., saat menjabat sebagai Dekan Fakultas Farmasi UGM. Beliau adalah sosok yang tenang, sederhana, tetapi memiliki cara menjelaskan sesuatu yang rumit menjadi mudah dipahami.
Dalam sebuah kesempatan, beliau memperkenalkan konsep Pohon Ilmu Kefarmasian*, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) di ruang Dekan Fakultas Farmasi UGM. Sebuah gambaran sederhana namun sangat kuat tentang bagaimana ilmu farmasi bertumbuh dari akar ilmu dasar, berkembang menjadi batang ilmu farmasi, lalu bercabang ke berbagai disiplin seperti farmasi komunitas, farmasi klinis, farmasi industri, analisis farmasi, hingga penelitian dan pengembangan obat.
Bagi mahasiswa saat itu, mungkin itu hanya sebuah diagram. Namun semakin bertambah usia, saya semakin memahami bahwa pohon tersebut sebenarnya bukan hanya tentang kurikulum, melainkan tentang cara memandang profesi secara utuh.
Di kesempatan lain, saya pernah berbincang ringan dengan beliau mengenai pendidikan pascasarjana farmasi. Saat itu kami sempat membahas posisi program magister farmasi yang secara administratif berada di lingkungan fakultas kedokteran. Beliau menjelaskan dengan santai sejarah dan dinamika yang melatarbelakanginya. Sebuah diskusi yang bagi orang luar mungkin terdengar biasa saja, tetapi bagi orang-orang yang pernah hidup dalam dunia pendidikan farmasi, tentu memahami bahwa ada banyak cerita, sejarah, dan dinamika kelembagaan yang tidak selalu tertulis dalam buku panduan akademik. You know lah what I mean.
Percakapan itu tidak berlangsung lama. Namun seperti banyak percakapan singkat lainnya dalam hidup, nilainya justru terasa bertahun-tahun kemudian. Terutama ketika kita mulai memahami bahwa sebuah institusi pendidikan tidak hanya dibangun oleh gedung dan kurikulum, tetapi juga oleh gagasan, tradisi, dan orang-orang yang pernah menghidupkannya.
Hari ini saya jarang lagi menuliskan embel-embel asal perguruan tinggi di belakang nama. Dunia sudah berubah. Cara orang memandang pendidikan pun berubah.
Namun siang itu, di tengah keramaian peserta UTUL UGM, saya kembali teringat bahwa setiap kampus besar sesungguhnya dibangun oleh jutaan cerita kecil.
Cerita mahasiswa yang belajar hingga larut malam.
Cerita orang tua yang mengantar anaknya mengikuti ujian.
Cerita calon apoteker yang berjuang menghadapi OSCE.
Dan cerita para alumni yang suatu hari mengenang kembali tempat mereka pernah menaruh harapan.
Perjalanan pulang ke Cileungsi terasa lebih ringan.
Kami tidak terlalu banyak membahas soal ujian. Hasil selalu memiliki waktunya sendiri untuk datang.
Yang tersisa justru sebuah kesadaran sederhana: suatu hari kita menjadi peserta ujian, dan di hari lain kita menjadi orang yang menunggu di luar ruang ujian.
Tanpa terasa, keduanya sama-sama mengajarkan arti sebuah harapan.
** = Pohon Ilmu Kefarmasian pada saatnya saya gunakan sebagai referensi membuat Surat Terbuka Kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika pergantian Kepala Badan POM RI dipimpin bukan oleh apoteker.
















