CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – Pagi itu kondisi pasien terlihat tidak seperti biasanya.
Tiga hari sebelumnya, seorang perempuan berusia 60 tahun baru saja menjalani operasi pengangkatan ginjal (nefrektomi). Awalnya proses pemulihan berjalan sebagaimana mestinya. Namun perlahan muncul keluhan mual, muntah, nafsu makan menurun, dan tekanan darah yang terus merosot.
Tim perawatan mulai waspada.
Hasil pemeriksaan menunjukkan jumlah sel darah putih meningkat hingga lebih dari 20.000/mm³. Pasien juga mulai membutuhkan obat untuk mempertahankan tekanan darah. Dalam dunia medis, kondisi seperti ini menjadi alarm bahwa tubuh sedang menghadapi infeksi serius.
Sebagai apoteker klinis, ada satu pertanyaan penting yang harus dijawab secepat mungkin:
Apakah antibiotik yang sedang diberikan masih bekerja?
Saat itu pasien mendapat antibiotik cefoperazone-sulbaktam. Setelah dievaluasi bersama tim medis, respons yang diharapkan ternyata belum terlihat. Infeksi justru tampak semakin berat.
Di sinilah proses asuhan kefarmasian dimulai.
Bagaimana Apoteker Melakukan Penilaian?
Dalam praktik klinis, apoteker tidak hanya melihat nama obat yang digunakan, tetapi juga melakukan pengkajian secara sistematis menggunakan metode SOAP.
S (Subjective)
Pasien mengeluhkan:
- Mual dan muntah
- Nafsu makan menurun
- Nyeri pada luka operasi
- Kondisi tubuh terasa semakin lemah
Keluhan ini memang tidak spesifik, tetapi pada pasien pasca operasi harus menjadi perhatian serius, terutama bila disertai tanda-tanda infeksi.
O (Objective)
Data objektif menunjukkan:
- Usia 60 tahun
- Berat badan 45 kg
- Leukosit sekitar 20.400/mm³
- Tekanan darah menurun
- Membutuhkan vasopresor untuk mempertahankan tekanan darah
- Oliguria (produksi urine menurun)
- Antibiotik yang digunakan: cefoperazone-sulbaktam 2 × 1 gram
Beberapa hari kemudian hasil kultur pus menunjukkan pertumbuhan bakteri Escherichia coli.
A (Assessment)
Dari data yang ada, apoteker mengidentifikasi adanya kegagalan terapi antibiotik empiris.
Meskipun pasien telah mendapatkan antibiotik selama beberapa hari, kondisi klinis justru memburuk. Peningkatan leukosit, hipotensi, dan kebutuhan vasopresor menunjukkan infeksi belum terkontrol dan telah berkembang menjadi syok septik.
Masalah terkait obat (Drug Related Problem/DRP) yang ditemukan adalah:
Antibiotik yang digunakan belum mampu mengatasi infeksi secara adekuat.
P (Plan)
Apoteker kemudian memberikan rekomendasi kepada dokter penanggung jawab untuk melakukan eskalasi terapi antibiotik.
Regimen yang disarankan:
- Meropenem 1 gram setiap 8 jam
- Amikasin 750 mg setiap 24 jam
Selain itu dilakukan pemantauan terhadap:
- Tekanan darah
- Jumlah leukosit
- Respons klinis pasien
- Kebutuhan vasopresor
- Efek samping antibiotik
Setelah terapi diganti, kondisi pasien mulai membaik. Tekanan darah berangsur stabil, kebutuhan vasopresor menurun, mual berkurang, dan pasien mulai dapat makan kembali.
Lebih dari Sekadar Mengganti Antibiotik
Bagi sebagian orang, pergantian antibiotik mungkin terlihat sebagai perubahan resep biasa. Padahal di balik keputusan tersebut terdapat proses penilaian klinis yang tidak sederhana.
Apoteker harus mengumpulkan data, menilai efektivitas terapi, mengidentifikasi masalah terkait obat, berkomunikasi dengan dokter, dan terus memantau hasil intervensi yang dilakukan.
Inilah esensi pharmaceutical care.
Bukan hanya memastikan obat tersedia dan diberikan tepat waktu, tetapi memastikan bahwa obat tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi pasien.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa keselamatan pasien sering kali bergantung pada kemampuan tenaga kesehatan untuk mengenali lebih awal ketika terapi tidak berjalan sesuai harapan.
Dan sering kali, perubahan besar dimulai dari satu pertanyaan sederhana:
“Apakah terapi yang sedang diberikan masih menjadi terapi terbaik untuk pasien ini?”











