ICER Bukan Rumus Sulit, tetapi Penentu Nasib Sebuah Obat

Di balik keputusan sebuah obat masuk atau tidak masuk ke Formularium Nasional, ada satu angka yang jarang diketahui masyarakat. Namanya ICER. Kedengarannya rumit, tetapi angka inilah yang sering menentukan apakah suatu terapi layak dibiayai atau belum.

Farmasi64 Dilihat
banner 468x60

CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – Pernahkah Anda bertanya mengapa ada obat yang terbukti ampuh di luar negeri, tetapi belum tersedia dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)? Jawabannya tidak selalu karena obat tersebut kurang efektif. Sering kali, pertimbangannya adalah apakah manfaat tambahan yang diberikan benar-benar sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan. Di sinilah Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) berperan sebagai salah satu alat bantu pengambilan keputusan dalam kajian farmakoekonomi.

Agar lebih mudah dipahami, bayangkan ada dua mobil yang sama-sama mampu mengantar Anda ke tujuan. Mobil pertama menghabiskan biaya Rp100 juta, sedangkan mobil kedua Rp200 juta tetapi lebih hemat bahan bakar, lebih aman, dan lebih nyaman digunakan selama bertahun-tahun. Pertanyaannya bukan lagi, “Mana yang lebih murah?”, melainkan, “Apakah tambahan biaya itu sepadan dengan manfaat yang diperoleh?” Cara berpikir seperti inilah yang digunakan dalam ICER, hanya saja yang dibandingkan bukan mobil, melainkan obat atau teknologi kesehatan.

banner 336x280

Dalam presentasinya pada PIT & Mukernas HISFARSI 2025, Prof. Dwi Endarti menjelaskan bahwa ICER membandingkan selisih biaya dengan selisih manfaat kesehatan yang diperoleh dari dua pilihan terapi. Manfaat tersebut sering diukur menggunakan Quality-Adjusted Life Year (QALY), yaitu ukuran yang menggabungkan harapan hidup dan kualitas hidup pasien dalam satu indikator. Semakin kecil nilai ICER, semakin besar peluang suatu terapi dinilai memberikan nilai yang baik terhadap biaya yang dikeluarkan.

Namun ICER bukan satu-satunya penentu. Sebuah obat dapat memiliki nilai ICER yang baik, tetapi tetap sulit diterapkan jika anggaran negara belum mampu menanggungnya. Karena itu, penilai juga melakukan Budget Impact Analysis (BIA) untuk memperkirakan dampak finansial ketika terapi baru diterapkan pada populasi yang luas. Dalam proses seleksi obat untuk Formularium Nasional, pertanyaan yang diajukan bukan hanya “Apakah obat ini efektif?”, tetapi juga “Apakah sistem kesehatan mampu membiayainya secara berkelanjutan?”

Materi ini juga menunjukkan bahwa hasil appraisal tidak selalu berakhir pada kata “ya” atau “tidak”. Ada obat yang langsung direkomendasikan karena terbukti cost-effective. Ada pula yang belum direkomendasikan, tetapi masih memiliki peluang setelah dilakukan negosiasi harga atau tersedia bukti baru yang lebih kuat. Dengan kata lain, ICER bukan sekadar angka di atas kertas. Ia dapat memengaruhi akses pasien terhadap terapi yang dibutuhkan sekaligus membantu pemerintah menjaga keberlanjutan pembiayaan kesehatan.

Pada akhirnya, ICER bukan rumus yang hanya dipahami ekonom kesehatan. Ia adalah jembatan antara ilmu pengetahuan, kebutuhan pasien, dan kemampuan negara membiayai pelayanan kesehatan. Semakin baik kita memahami cara kerjanya, semakin mudah kita mengerti mengapa memilih obat ternyata tidak sesederhana membandingkan harga di etalase apotek.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *