CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – “Pak Apoteker, HbA1c saya 6,1%. Bagus, kan?” Kalau hanya melihat angka, rasanya ingin menjawab, “Wah, bagus sekali, Bu!” Tetapi mari lihat pasiennya lebih dekat. Perempuan 69 tahun, menggunakan metformin 1.000 mg dua kali sehari, glimepiride 4 mg sehari, insulin glargine 24 unit malam, dan insulin aspart 8 unit tiga kali sehari sebelum makan.
Gula darah puasa beberapa kali tercatat 58–72 mg/dL. Pasien sering tidak sarapan dan mengeluh gemetar, berkeringat, serta lemas sebelum makan pagi. Nah, HbA1c-nya memang 6,1%. Tetapi pertanyaan apoteker bukan lagi, “Angkanya bagus atau tidak?” Melainkan: berapa kali pasien harus mengalami hipoglikemia untuk mendapatkan angka secantik itu?
Standar American Diabetes Association 2026 menegaskan bahwa lansia berisiko lebih tinggi mengalami hipoglikemia, terutama ketika menggunakan insulin dan sulfonilurea; obat pencetus hipoglikemia perlu dideintensifikasi atau dialihkan bila risiko pasien tinggi sesuai target glikemik individual.
Sekarang coba baca daftar obatnya sebagai apoteker. Ada glimepiride, lalu insulin basal, kemudian insulin prandial tiga kali sehari. Apakah kombinasi tersebut otomatis salah? Tidak. Jangan jadi koboi farmakoterapi.
Tetapi pada pasien 69 tahun dengan hipoglikemia berulang, HbA1c 6,1%, eGFR 42 mL/menit/1,73 m², dan kebiasaan melewatkan sarapan, regimen ini layak mendapat medication review serius. Data dunia nyata pada pasien lanjut usia juga terus menyoroti risiko hipoglikemia sulfonilurea; studi pada penghuni panti lansia menemukan penggunaan glimepiride baru berkaitan dengan angka hipoglikemia berat yang lebih tinggi dibanding glipizide. (PMC)
Jadi, jangan bangga dulu melihat HbA1c rendah. Bisa jadi kita sedang melihat overtreatment yang menyamar sebagai keberhasilan terapi.
Lalu ada propranolol 40 mg dua kali sehari. Nah, jangan langsung berkata, “Stop propranolol!” Kita bahkan belum tahu indikasinya—mungkin untuk kondisi kardiovaskular, tremor, atau indikasi lain. Tetapi beta-blocker dapat mengubah atau mengaburkan sebagian tanda adrenergik hipoglikemia, seperti takikardia dan tremor. Artinya, pada pasien yang menggunakan insulin dan obat pencetus hipoglikemia, apoteker perlu lebih teliti menilai bagaimana pasien mengenali gula darah rendah. (PubMed)
Pertanyaannya menjadi lebih klinis: “Bu, kalau gula turun biasanya Ibu merasakan apa? Berdebar? Berkeringat? Bingung? Pernah jatuh? Pernah sampai membutuhkan bantuan orang lain?” Clinical reasoning dimulai ketika kita berhenti membaca nama obat dan mulai membaca pengalaman pasien.
Kalau kasus ini ada di meja saya, saya tidak akan sekadar menulis “HbA1c terkontrol” lalu menutup rekam farmasi. Saya akan menelusuri pola hipoglikemia, waktu pemberian insulin, hubungan insulin aspart dengan jadwal makan, alasan pasien sering melewatkan sarapan, indikasi propranolol, fungsi ginjal, kemampuan self-management, dan target HbA1c individual pasien.
Lalu regimen yang berisiko menyebabkan hipoglikemia perlu didiskusikan bersama dokter untuk kemungkinan simplifikasi atau deintensifikasi terapi secara terarah—bukan dihentikan sembarangan. Pedoman ADA 2026 bahkan secara eksplisit mengingatkan bahwa overtreatment diabetes pada lansia perlu dihindari dan simplifikasi regimen kompleks, khususnya insulin, dapat dipertimbangkan untuk mengurangi hipoglikemia dan beban terapi. (Diabetes Journals)
Jadi, HbA1c 6,1% memang angka yang cantik.
Tetapi pasien bukan angka laboratorium.
Kalau setiap pagi ia gemetar, berkeringat, lemas, takut jatuh, atau harus “membayar” target glikemik dengan hipoglikemia berulang, apoteker wajib berhenti dan bertanya:
“Apakah gula darah pasien benar-benar terkontrol, atau terapinya terlalu kuat?”
Karena target terapi diabetes bukan memenangkan lomba HbA1c paling rendah.
Targetnya adalah kontrol glikemik yang aman, rasional, individual, dan tetap membuat pasien mampu menjalani hidupnya.
Catatan Apoteker Subagiyo:
Angka laboratorium yang cantik belum tentu menceritakan terapi yang cantik. Sesekali, tanyakan apa yang harus dialami pasien untuk mendapatkan angka itu.
Apoteker Subagiyo
Sahabat Sehat, Terapi Tepat
#MakePharmacistMoreExist
Subagiyo.com — Belajar Farmasi Tanpa Ribet, Tetap Berbobot.













