Masih Menganggap Risk Register Cuma Dokumen Akreditasi? Ini Kesalahan yang Sering Dilakukan Apoteker

Banyak mahasiswa farmasi maupun apoteker rumah sakit masih menganggap Risk Register hanya sebagai dokumen yang disiapkan ketika akreditasi rumah sakit akan berlangsung. Padahal, pandangan tersebut justru dapat membuat organisasi kehilangan kesempatan mencegah berbagai insiden sebelum benar-benar terjadi.

Farmasi Klinik105 Dilihat
banner 468x60

CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – Dalam seminar Risk Register dan FMEA Area Manajemen Farmasi, Dra. Arofa Idha, M.Farm-Klin., Apt., FISQua menjelaskan bahwa manajemen risiko merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan kefarmasian untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menurunkan risiko yang dapat berdampak pada pasien, tenaga kesehatan, maupun organisasi.

Apoteker bertanggung jawab menerapkan manajemen risiko dalam pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit, terutama dalam upaya meningkatkan patient safety (keselamatan pasien),” tegas Arofa Idha.

banner 336x280

Menurutnya, setiap tahapan pelayanan farmasi memiliki potensi risiko, mulai dari pemilihan obat, perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, distribusi, hingga pemusnahan sediaan farmasi. Karena itu, risiko tidak boleh hanya dicatat setelah terjadi insiden, tetapi harus dikenali sejak awal melalui penyusunan Risk Register yang sistematis.

Lebih lanjut, Arofa menjelaskan bahwa penyusunan Risk Register harus didasarkan pada data nyata, bukan sekadar perkiraan. Sumber informasi dapat berasal dari laporan medication error, komplain pasien, hasil audit, indikator mutu, medical record review, ronde pelayanan, hingga hasil analisis Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) maupun Root Cause Analysis (RCA).

Risk Register

Setelah risiko berhasil diidentifikasi, langkah berikutnya adalah menganalisis kemungkinan terjadinya, menilai besarnya dampak, menentukan prioritas risiko, kemudian menyusun strategi pengendalian yang paling efektif. Dengan pendekatan tersebut, rumah sakit tidak hanya bereaksi terhadap masalah, tetapi mampu mencegah masalah muncul sejak awal.

Inilah perubahan cara berpikir yang perlu dimiliki mahasiswa farmasi, mahasiswa profesi apoteker, maupun apoteker rumah sakit. Risk Register bukan sekadar tabel yang diisi menjelang survei akreditasi, melainkan alat berpikir klinis untuk membangun budaya keselamatan pasien.

Ketika seorang apoteker mulai bertanya “apa yang mungkin salah?” sebelum bertanya “siapa yang salah?”, maka saat itulah manajemen risiko benar-benar hidup di instalasi farmasi. Dan pada akhirnya, pelayanan kefarmasian tidak hanya menjadi lebih patuh terhadap standar, tetapi juga lebih aman, lebih bermutu, dan lebih dipercaya masyarakat.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *