Masuk IGD Minum Obat, Pindah Ruangan Kok Hilang? Kesalahan Kecil yang Bisa Berbahaya!

Pasien boleh pindah dari IGD ke ruang rawat, lalu pulang ke rumah. Tetapi informasi obatnya jangan sampai ikut tersesat di tengah jalan.

Farmasi Klinik50 Dilihat
banner 468x60

CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – “Pak, biasanya saya minum obat ini. Kok sekarang nggak dapat, ya?” Pertanyaan sederhana. Kadang dianggap sepele. “Mungkin sudah dihentikan dokter, Pak.” Bisa jadi benar. Tapi bisa juga tidak.

Bisa saja obat memang sengaja dihentikan karena kondisi pasien berubah. Namun, dalam pelayanan kesehatan yang kompleks, ada kemungkinan lain yang harus diwaspadai: instruksi obat terlewat ketika pasien berpindah dari satu unit pelayanan ke unit lainnya.

banner 336x280

Dalam materi apt. Benny Setiawan, S.Farm., M.Farm-Klin tentang implementasi pharmaceutical care pada pencegahan stroke, ada satu contoh yang cukup menohok. Seorang pasien masuk IGD dan telah stabil menggunakan DOAC.

Ketika pasien dipindahkan ke bangsal reguler, instruksi obat tersebut dapat luput dipindahkan ke sistem order baru. Narasumber menegaskan bahwa “rotasi/pemindahan unit sangat rentan terhadap miskomunikasi instruksi esensial.”

Nah, bagi masyarakat awam, istilahnya mungkin sederhana: obatnya kok hilang dari daftar? Tetapi bagi mahasiswa farmasi, mahasiswa profesi apoteker, apoteker, apoteker spesialis, dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya, kasus seperti ini masuk ke wilayah serius: transisi pelayanan dan rekonsiliasi obat.

Diagram pada halaman 29 bahkan menggambarkan dua risiko saat pasien bergerak dari IGD, ruang rawat, hingga klinik atau komunitas: omission error, ketika obat yang seharusnya diteruskan justru terlewat, dan duplikasi terapi, ketika obat lama dan obat baru tanpa sengaja digunakan bersamaan.

“Lho, bukannya semua sudah masuk komputer?” Nah, ini pertanyaan favorit zaman digital. 😄 Komputer tidak otomatis membuat proses klinis bebas salah. Sistem informasi hanya sebaik proses, data, dan manusia yang menggunakannya.

Karena itulah Benny menempatkan rekonsiliasi obat dan digitalisasi SIMRS sebagai dua dari empat pilar integrasi asuhan kefarmasian, bersama home medication review/telepharmacy dan kendali biaya. Pada halaman 32, bahkan digambarkan gagasan pop-up system alert yang dapat memberi peringatan otomatis ketika suatu terapi melewati batas yang telah ditentukan.

Lalu, sebenarnya apa itu rekonsiliasi obat? Jangan dibayangkan sebagai apoteker duduk sambil menghitung jumlah tablet satu per satu. 😄 Dalam diagram halaman 31, daftar obat yang dibawa atau digunakan pasien dibandingkan dengan formularium dan instruksi rumah sakit.

Apoteker melakukan wawancara investigatif saat admisi dan rencana pemulangan untuk mencari perbedaan. Tujuannya jelas: mencegah obat esensial terputus dan menghindari tumpang tindih obat antara obat bawaan pasien dengan resep rumah sakit.

Bagi masyarakat, ada satu pelajaran penting: jangan datang ke rumah sakit hanya membawa ingatan. Kalimat, “Obat saya yang putih kecil, Pak. Yang diminum pagi. Bungkusnya dulu warna biru,” memang sangat manusiawi, tetapi cukup membuat tenaga kesehatan bermain tebak-tebakan level olimpiade.

Bila memungkinkan, bawalah daftar obat, foto kemasan, salinan resep, atau obat yang sedang digunakan. Sampaikan juga vitamin, suplemen, dan obat yang dibeli sendiri. Informasi obat yang lengkap adalah bagian dari keselamatan pasien.

Bagi mahasiswa farmasi dan mahasiswa apoteker, materi Benny memberi pelajaran bahwa pharmaceutical care bukan sekadar menghafal interaksi obat. Pasien stroke sering memiliki komorbiditas kompleks dan menggunakan banyak obat secara bersamaan.

Pada halaman 24, narasumber menggambarkan hubungan antara komorbiditas kompleks, polifarmasi eksponensial, dan peningkatan risiko Drug Related Problems atau DRPs. Bahkan, data yang ditampilkan pada halaman 25 menyebut lebih dari 60% pasien stroke iskemik akut mengalami minimal satu DRP. Konsumsi lima jenis obat atau lebih meningkatkan risiko secara eksponensial, sementara pasien dengan delapan obat atau lebih disebut memiliki kerentanan 5,6 kali mengalami komplikasi DRP serius.

Nah, untuk apoteker dan apoteker spesialis, di sinilah Pemantauan Terapi Obat atau PTO tidak boleh berhenti menjadi dokumen akreditasi yang cantik di dalam map. 😄 Pergeseran paradigma yang ditampilkan Benny pada halaman 2 sangat jelas: pelayanan kefarmasian bergerak dari posisi pasif—fokus pada pengadaan dan distribusi—menjadi aktif melalui PTO serta identifikasi, pencegahan, dan resolusi DRP. Apoteker berperan menjamin efektivitas, keamanan, dan rasionalitas biaya terapi.

Bagi dokter dan tenaga kesehatan lainnya, rekonsiliasi obat juga bukan wilayah eksklusif apoteker. Ini pekerjaan kolaboratif. Apoteker mungkin menemukan bahwa satu obat hilang dari daftar. Dokter menentukan apakah obat tersebut memang masih memiliki indikasi klinis.

Perawat dapat menemukan perbedaan saat pemberian obat. Pasien dan keluarga memberikan informasi tentang obat yang sebenarnya digunakan di rumah. Materi Benny menutup dengan pesan bahwa pharmaceutical care yang optimal membutuhkan kolaborasi antara apoteker, dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya.

Jadi, kalau pasien bertanya, “Pak, obat saya yang biasanya diminum kok sekarang tidak ada?” jangan buru-buru menjawab, “Berarti sudah dihentikan.”

Berhenti sebentar.

Cek daftar obatnya. Telusuri riwayatnya. Konfirmasi instruksinya. Diskusikan dengan tim.

Karena dalam pelayanan stroke, obat yang sengaja dihentikan adalah keputusan terapi. Tetapi obat yang tidak sengaja hilang dari daftar bisa menjadi masalah keselamatan pasien.

Pasien boleh pindah ruangan.

Informasi obatnya jangan sampai tersesat.

Apoteker Subagiyo
Sahabat Sehat, Terapi Tepat

#MakePharmacistMoreExist

Subagiyo.com — Belajar Farmasi Tanpa Ribet, Tetap Berbobot.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *