CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – Ketika berbicara tentang apoteker, kebanyakan orang membayangkan seseorang yang menyiapkan obat, memeriksa resep, atau memberikan edukasi kepada pasien. Jarang yang menyadari bahwa pekerjaan tersebut juga berkaitan dengan isu lingkungan. Padahal, setiap tablet yang kedaluwarsa, setiap vial kemoterapi yang terbuang, hingga setiap obat yang digunakan tidak rasional pada akhirnya menghasilkan limbah yang harus dikelola dengan aman. Semakin besar limbah obat, semakin besar pula biaya yang dikeluarkan rumah sakit dan semakin besar potensi dampaknya terhadap lingkungan.
Dalam presentasi “Leveraging Artificial Intelligence in Hospital Pharmacy Practice: NCCS Experience”, Peter Yap menunjukkan bahwa inovasi digital ternyata tidak hanya meningkatkan efisiensi pelayanan, tetapi juga mendukung konsep green pharmacy. Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengoptimalkan pemilihan vial obat kemoterapi, rumah sakit mampu mengurangi sisa obat yang tidak terpakai secara signifikan. Hasilnya bukan hanya penghematan biaya, tetapi juga berkurangnya limbah bahan sitotoksik yang memerlukan penanganan khusus.
Obat yang Terbuang Tidak Pernah Benar-Benar Hilang
Banyak orang mengira obat yang dibuang akan langsung lenyap bersama sampah. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Obat yang dibuang sembarangan dapat mencemari tanah dan sumber air. Beberapa zat aktif bahkan tetap bertahan di lingkungan dalam waktu lama sebelum akhirnya masuk ke ekosistem. Karena itulah rumah sakit memiliki prosedur khusus untuk mengelola limbah farmasi, terutama limbah obat sitotoksik yang digunakan dalam terapi kanker.
Semakin sedikit obat yang terbuang, semakin kecil pula beban lingkungan. Inilah alasan mengapa efisiensi penggunaan obat bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan juga bagian dari tanggung jawab ekologis.
Green Pharmacy Dimulai dari Ruang Farmasi
Konsep green pharmacy sering dianggap identik dengan penggunaan bahan alami atau kemasan ramah lingkungan. Padahal maknanya jauh lebih luas. Di instalasi farmasi rumah sakit, konsep ini mencakup pemilihan stok obat yang tepat, pengelolaan persediaan yang efisien, pengurangan obat kedaluwarsa, optimalisasi dosis, hingga pengelolaan limbah farmasi secara bertanggung jawab.
Pengalaman National Cancer Centre Singapore menjadi contoh menarik. Dengan bantuan algoritma berbasis AI, sistem mampu memilih kombinasi vial yang menghasilkan limbah paling sedikit tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada pasien. Pendekatan ini menunjukkan bahwa teknologi digital dapat menjadi bagian penting dari strategi keberlanjutan (sustainability) di rumah sakit.
AI Membantu, Apoteker Menentukan Arah
Salah satu hal yang menarik dari proyek ini adalah AI tidak bekerja sendiri. Algoritma hanya memberikan rekomendasi berdasarkan data, sedangkan keputusan akhir tetap berada di tangan apoteker. Kombinasi antara kecerdasan buatan dan pertimbangan klinis inilah yang menghasilkan pelayanan yang lebih aman sekaligus lebih efisien.
Pendekatan tersebut juga mengubah cara pandang terhadap investasi teknologi. AI bukan sekadar alat untuk mempercepat pekerjaan, tetapi juga instrumen yang membantu rumah sakit mengurangi pemborosan sumber daya. Ketika limbah berkurang, biaya operasional ikut menurun, dan manfaatnya dapat kembali dirasakan oleh pasien melalui pelayanan yang lebih baik.
Catatan Ahmad Subagiyo
Sebagai apoteker, saya melihat green pharmacy bukan lagi konsep masa depan, tetapi kebutuhan yang mulai terasa saat ini. Selama ini kita sering berbicara tentang penggunaan obat yang rasional demi mencegah resistensi antibiotik atau meningkatkan keberhasilan terapi. Namun ada sisi lain yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana penggunaan obat yang rasional juga membantu menjaga lingkungan.
Menurut saya, perubahan besar tidak selalu dimulai dari teknologi yang mahal. Mengurangi stok berlebih, mengelola obat mendekati kedaluwarsa dengan lebih baik, mengedukasi pasien agar tidak membuang obat sembarangan, hingga memanfaatkan data untuk memprediksi kebutuhan obat merupakan langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan banyak fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia.
Saya optimistis konsep green pharmacy akan semakin berkembang, terutama ketika AI mulai terintegrasi dengan sistem informasi rumah sakit. Bukan untuk menggantikan peran apoteker, melainkan membantu kita mengambil keputusan yang lebih tepat bagi pasien sekaligus lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Pada akhirnya, obat memang diciptakan untuk menyembuhkan manusia. Namun cara kita mengelola obat juga akan menentukan seberapa besar dampaknya terhadap bumi yang kita tinggali bersama.









