CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – Bahkan bisa saja muncul dugaan obat palsu atau terapi gagal. Eits… jangan buru-buru menyimpulkan. Pada beberapa sistem penghantaran obat tertentu, sesuatu yang tampak seperti tablet di feses bisa saja merupakan cangkang sediaan, sementara zat aktifnya telah dilepaskan dan diserap tubuh.
Salah satu contoh yang dibahas oleh dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, FIHA adalah nifedipine dengan teknologi GITS/OROS (Oral Osmotic Delivery System). Dalam materi tersebut dijelaskan, “Cangkang Nifedipine GITS/OROS akan terbuang bersama dengan feses, tetapi bahan aktif telah diserap oleh tubuh.”
Menariknya, narasumber bahkan memberikan catatan khusus bahwa informasi ini perlu disampaikan kepada pasien. Artinya, edukasi mengenai fenomena tersebut bukan sekadar tambahan konseling, tetapi penting untuk mencegah pasien salah memahami keberhasilan terapinya.
Lalu, kok bisa? Diagram pada halaman 8 materi Leonardo memperlihatkan bahwa OROS bekerja layaknya pompa osmotik mini di dalam tablet. Air masuk melewati membran semipermeabel melalui proses osmosis, kemudian lapisan pendorong mengembang dan mendorong nifedipine keluar melalui lubang kecil pada tablet. Sistem ini dirancang untuk menghasilkan pelepasan obat yang lebih terkontrol.
Leonardo menggambarkan karakter pelepasannya sebagai “smooth and gradual”, sementara profil konsentrasi pada halaman 13 menunjukkan pola yang lebih landai dan bertahan hingga 24 jam dibandingkan formulasi nifedipine sebelumnya.
Nah, setelah zat aktif dilepaskan, bagian cangkang dari sistem penghantaran tersebut dapat tetap melewati saluran cerna dan terlihat saat pasien BAB. Fenomena ini sering dikenal sebagai ghost tablet atau ghost pill. Jadi, benda yang terlihat di feses tidak otomatis berarti seluruh obat gagal diserap.
Di sinilah peran apoteker menjadi penting. Jangan hanya berkata, “Oh, itu biasa, Bu.” Jelaskan mekanismenya dengan bahasa sederhana agar pasien memahami bahwa yang terlihat dapat merupakan sisa sistem penghantaran obat. Tentu, bila pasien meragukan terapi, tekanan darah tidak terkontrol, atau mengalami keluhan lain, evaluasi terapi tetap diperlukan.
Pelajaran bagi mahasiswa farmasi dan calon apoteker sederhana: belajar obat jangan berhenti pada nama zat aktif dan dosis. Pahami juga bentuk sediaan, teknologi penghantaran, serta cara memberikan konseling kepada pasien. Karena terkadang pasien tidak datang membawa hasil laboratorium atau jurnal ilmiah.
Mereka datang membawa cerita, “Pak Apoteker, tabletnya keluar lagi saat BAB.” 😄 Dan dari pertanyaan sederhana itulah ilmu farmasetika bertemu dengan farmasi klinis. Apoteker yang paham teknologi obat tidak hanya menyerahkan obat, tetapi juga menjaga kepercayaan pasien terhadap terapinya.
#MakePharmacistMoreExist
Subagiyo.com — Belajar Farmasi Tanpa Ribet, Tetap Berbobot.













