CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – Padahal, pelayanan kefarmasian modern telah berubah jauh. Apoteker tidak lagi sekadar “menunggu resep”, tetapi dituntut hadir lebih awal untuk memastikan terapi yang diberikan benar-benar aman sebelum obat sampai ke tangan pasien.
Dalam presentasinya tentang Flow Disruption Pelayanan Kefarmasian Rawat Inap, Ainun Marfu menjelaskan bahwa pengkajian resep seharusnya menjadi pintu pertama pencegahan medication error.
Apoteker harus mampu mendeteksi interaksi obat, kontraindikasi, duplikasi terapi, hingga kesalahan dosis sebelum proses dispensing dimulai. Jika ditemukan masalah terkait obat (drug related problems), apoteker wajib mengomunikasikannya kepada dokter penulis resep agar terapi dapat diperbaiki sedini mungkin.
Perubahan cara berpikir inilah yang kemudian melahirkan konsep flow disruption, yaitu memindahkan aktivitas pengkajian resep lebih dekat ke bangsal sehingga komunikasi dengan dokter dan perawat berlangsung secara langsung.
Hasilnya bukan hanya mempercepat pelayanan, tetapi juga meningkatkan kualitas keputusan klinis karena potensi masalah dapat diketahui sebelum obat disiapkan.
Insight Ahmad Subagiyo
Menurut saya, nilai seorang apoteker tidak diukur dari seberapa cepat menyerahkan obat, melainkan dari seberapa banyak kesalahan terapi yang berhasil dicegah sebelum terjadi.
Ketika apoteker berani hadir lebih dekat dengan pasien dan tim medis, ia bukan sekadar “penjaga gudang obat”, tetapi benar-benar menjadi penjaga keselamatan pasien.













