Ketika Kebingungan pada Lansia Ternyata Berasal dari Obatnya

Perubahan perilaku pada lansia sering kali langsung dikaitkan dengan bertambah parahnya demensia. Padahal, dalam beberapa kasus, penyebabnya justru berasal dari obat yang diberikan selama proses pengobatan.

Farmasi Klinik60 Dilihat
banner 468x60

CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – Melalui kasus seorang pasien bernama Denny berusia 75 tahun dengan penyakit Alzheimer, fibrilasi atrium, inkontinensia, dan osteoartritis, Dr. Chris Alderman menunjukkan bagaimana kondisi pasien memburuk setelah ditambahkan amitriptyline dan chlorpromazine ke dalam regimen terapinya.

Setelah penambahan kedua obat tersebut, pasien mengalami retensi urin, kebingungan yang semakin berat, perilaku agresif, dan gangguan keseimbangan. Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana perubahan terapi dapat memengaruhi kondisi fisik maupun mental pasien lanjut usia.

banner 336x280

Menurut Dr. Alderman, pasien geriatri memang memiliki berbagai tantangan sekaligus, mulai dari demensia, delirium, depresi dengan risiko fatal yang tinggi, penyakit penyerta, hingga minimnya dukungan sosial. Karena itu, setiap keputusan terapi harus mempertimbangkan manfaat dan risiko secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada satu diagnosis.

Insight Ahmad Subagiyo

Saya melihat bahwa salah satu kekuatan profesi farmasi adalah kemampuannya menghubungkan berbagai informasi yang sering kali tampak terpisah. Ketika seorang lansia tiba-tiba menjadi lebih bingung, lebih sering jatuh, atau berubah perilaku, jangan hanya bertanya “penyakit apa yang bertambah?”, tetapi juga “obat apa yang baru ditambahkan?”

Pertanyaan sederhana tersebut sering menjadi awal ditemukannya masalah terapi obat yang selama ini tidak disadari. Di sinilah pelayanan kefarmasian berperan bukan hanya sebagai penyedia obat, tetapi sebagai penjaga keselamatan pasien (guardian of medication safety).

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *