Ketika Obat Penenang Membuat Lansia Sulit Berdiri

"Dok, Ibu saya akhir-akhir ini sering jatuh ketika bangun dari tempat tidur." Kalimat sederhana seperti ini ternyata menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pelayanan kesehatan lansia. Tidak sedikit kasus jatuh pada pasien lanjut usia bukan semata-mata disebabkan oleh penyakitnya, melainkan akibat kombinasi beberapa obat yang bekerja terlalu kuat pada tubuh yang telah menua. Inilah pelajaran penting yang dibagikan Dr. Chris Alderman dari University of South Australia dalam sesi Geriatric Pharmacotherapy: Lessons from Our Patients.

Farmasi63 Dilihat
banner 468x60

CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – Dr. Chris Alderman mengawali paparannya dengan mengingatkan bahwa pasien lanjut usia hampir selalu datang dengan berbagai tantangan sekaligus. “Multimorbidity is the rule,” ungkapnya, menegaskan bahwa memiliki lebih dari satu penyakit kronis merupakan kondisi yang umum pada lansia.

Selain itu, perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik, polifarmasi, hingga sulitnya melakukan deprescribing membuat terapi pada kelompok usia ini jauh lebih kompleks dibandingkan pasien dewasa muda.

banner 336x280

Alderman memaparkan salah satu contoh yaitu kasus seorang perempuan berusia 70 tahun yang mengalami depresi, hipertensi, dan diabetes melitus. Awalnya pasien mengonsumsi metoprolol, metformin, aspirin, dan duloxetine. Namun setelah ditambahkan risperidone dan fluoxetine, kondisi pasien berubah drastis.

Tekanan darahnya turun hingga 95/45 mmHg, denyut jantung melambat menjadi 40 kali per menit, muncul gejala menyerupai Parkinson, serta pasien tampak menarik diri dan gelisah. Kasus ini menunjukkan bahwa penambahan obat tanpa evaluasi menyeluruh dapat memicu drug-related problems yang serius pada lansia.

Insight Ahmad Subagiyo

Menurut saya, kasus seperti ini mengingatkan bahwa keberhasilan terapi bukan diukur dari banyaknya obat yang diberikan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang benar-benar dirasakan pasien. Pada lansia, setiap penambahan satu obat seharusnya selalu disertai pertanyaan sederhana: “Apakah obat ini benar-benar diperlukan?”

Evaluasi rutin terhadap seluruh regimen terapi, kolaborasi antarprofesi, dan keberanian melakukan deprescribing bila diperlukan merupakan bagian penting dari patient safety. Kadang-kadang, mengurangi satu obat justru menjadi keputusan klinis terbaik.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *