Seiring bertambahnya usia, hampir seluruh organ tubuh mengalami penurunan fungsi. Lambung mengosongkan makanan lebih lambat, massa otot berkurang, kadar lemak tubuh meningkat, sementara fungsi hati dan ginjal sebagai organ utama metabolisme serta eliminasi obat juga menurun. Akibatnya, obat dapat bertahan lebih lama di dalam tubuh, memberikan efek yang lebih kuat, atau justru meningkatkan risiko reaksi yang tidak diinginkan. Karena itu, dosis yang tepat pada orang dewasa belum tentu tepat bagi seorang lansia. Prinsip “start low, go slow” menjadi salah satu pendekatan penting dalam farmakoterapi geriatri agar terapi tetap efektif sekaligus aman.
Tantangan lainnya adalah polifarmasi, yaitu kondisi ketika seorang lansia mengonsumsi banyak obat untuk mengendalikan berbagai penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, osteoartritis, maupun gangguan tidur. Semakin banyak obat yang digunakan, semakin besar pula peluang terjadinya interaksi obat, duplikasi terapi, maupun efek samping yang dapat menurunkan kualitas hidup. Inilah alasan mengapa farmasi geriatri berkembang sebagai bidang kompetensi khusus yang menekankan pelayanan kefarmasian berbasis pasien, mulai dari identifikasi medication-related problems, penyusunan rencana terapi, pemantauan efektivitas dan keamanan obat, hingga evaluasi berkelanjutan terhadap seluruh regimen pengobatan pasien lanjut usia.
Bagi tenaga kesehatan, khususnya tenaga farmasi, pelayanan kepada lansia tidak lagi sebatas menyerahkan obat sesuai resep. Setiap obat perlu dievaluasi apakah masih diperlukan, apakah dosisnya telah disesuaikan dengan fungsi ginjal dan hati, apakah terdapat interaksi yang berpotensi membahayakan, serta apakah pasien dan keluarganya memahami cara penggunaan obat yang benar. Indonesia sedang memasuki era masyarakat menua sehingga kebutuhan akan pelayanan kefarmasian geriatri akan semakin meningkat. Pada akhirnya, tujuan terapi bukan sekadar memperpanjang usia, tetapi memastikan setiap lansia tetap memperoleh kualitas hidup yang baik melalui penggunaan obat yang rasional, aman, efektif, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Dalam presentasinya mengenai Geriatric Pharmacy Certification, Dr. Chris Alderman dari University of South Australia menegaskan bahwa visi utama sertifikasi farmasi geriatri adalah memastikan seluruh lansia memperoleh pelayanan kefarmasian yang berkualitas dari tenaga farmasi yang memiliki kompetensi khusus di bidang geriatri. Menurutnya, tenaga farmasi yang tersertifikasi diharapkan menjadi penyedia pelayanan kefarmasian pilihan bagi populasi lanjut usia karena mampu memberikan pengelolaan terapi obat yang lebih aman, efektif, dan berpusat pada pasien.
Dr. Alderman juga menjelaskan bahwa meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia, terbatasnya pendidikan geriatri dalam kurikulum, serta semakin kompleksnya praktik kefarmasian menjadi alasan kuat mengapa kompetensi khusus di bidang farmasi geriatri semakin dibutuhkan. Ia menambahkan bahwa pelayanan kepada lansia tidak cukup hanya menguasai farmakoterapi, tetapi juga harus mampu mengumpulkan dan mengevaluasi informasi pasien, mengidentifikasi serta mencegah medication-related problems (MRP), menyusun rencana terapi bersama tim kesehatan, melakukan pemantauan terapi, hingga mendokumentasikan seluruh proses pelayanan secara sistematis.














