Hipertensi Tidak Selalu Menimbulkan Pusing, tetapi Bisa Merusak Organ Diam-Diam

Banyak orang baru merasa memiliki tekanan darah tinggi ketika kepala mulai terasa berat atau tengkuk pegal. Padahal, hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala apa pun. Justru ketika keluhan muncul, kerusakan pada organ tubuh mungkin sudah berlangsung cukup lama.

Farmasi43 Dilihat
banner 468x60

CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – Seorang bapak paruh baya pernah datang ke apotek hanya untuk membeli obat sakit kepala. Ia bercerita sudah beberapa hari merasa pusing, tetapi masih tetap bekerja seperti biasa. Saat tekanan darahnya diperiksa, hasilnya mencapai 180/100 mmHg. Wajahnya terlihat terkejut. “Saya tidak merasa sakit apa-apa sebelumnya,” katanya.

Cerita seperti itu bukanlah hal yang langka. Hipertensi memang sering dijuluki sebagai silent killer atau “pembunuh senyap”. Penyakit ini dapat berkembang perlahan tanpa gejala yang khas. Seseorang tetap dapat bekerja, berolahraga, bahkan merasa sehat, sementara tekanan darah yang tinggi terus memberikan beban pada pembuluh darah, jantung, ginjal, mata, hingga otak. Materi yang disampaikan Prof. Dr. apt. Zullies Ikawati, Ph.D. juga menegaskan bahwa hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah meningkat secara menetap, dengan diagnosis ditegakkan jika tekanan darah sistolik mencapai ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg pada pengukuran di fasilitas pelayanan kesehatan.

banner 336x280

Tidak Semua Hipertensi Menimbulkan Keluhan

Inilah yang sering menimbulkan salah paham. Banyak orang mengira hipertensi selalu ditandai dengan pusing, leher kaku, atau mimisan. Padahal, keluhan tersebut tidak selalu muncul dan bukan penanda yang dapat diandalkan. Sebagian besar penderita hipertensi justru tidak menyadari kondisinya hingga dilakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin atau setelah muncul komplikasi seperti stroke, serangan jantung, atau gangguan ginjal.

Karena itu, mengukur tekanan darah secara berkala jauh lebih penting daripada menunggu munculnya gejala. Pemeriksaan hanya membutuhkan beberapa menit, tetapi hasilnya dapat menjadi langkah awal untuk mencegah komplikasi yang jauh lebih berat.

Yang Rusak Bukan Hanya Pembuluh Darah

Tekanan darah yang tinggi ibarat air yang terus mengalir melalui selang dengan tekanan berlebihan. Lama-kelamaan, dinding selang akan mengalami kerusakan. Begitu pula pembuluh darah manusia. Hipertensi yang tidak terkendali dapat menyebabkan kerusakan organ yang dimediasi oleh hipertensi (hypertension-mediated organ damage), termasuk pembesaran otot jantung, gangguan fungsi ginjal, kelainan retina mata, hingga meningkatkan risiko stroke dan penyakit jantung koroner.

Yang perlu diingat, kerusakan ini biasanya berlangsung perlahan. Tidak terasa hari ini, tetapi dampaknya dapat muncul bertahun-tahun kemudian.

Obat Penting, tetapi Gaya Hidup Tetap Menjadi Kunci

Banyak pasien berharap tekanan darah turun hanya dengan mengandalkan obat. Padahal, pedoman tata laksana hipertensi selalu menempatkan perubahan gaya hidup sebagai bagian penting dari terapi. Mengurangi konsumsi garam, menjaga berat badan ideal, berolahraga secara teratur, berhenti merokok, serta memperbaiki pola makan terbukti membantu mengendalikan tekanan darah. Pada pasien dengan risiko tertentu atau hipertensi derajat lebih tinggi, perubahan gaya hidup perlu disertai terapi obat sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.

Karena hipertensi merupakan penyakit jangka panjang, keberhasilan pengobatan tidak hanya ditentukan oleh pilihan obat, tetapi juga oleh kepatuhan pasien menjalani terapi dan kebiasaan hidup yang lebih sehat.

Peran Apoteker Lebih dari Sekadar Menyerahkan Obat

Dalam presentasinya, Prof. Zullies mengingatkan bahwa apoteker merupakan tenaga kesehatan yang paling mudah diakses masyarakat. Perannya bukan hanya menyiapkan obat, tetapi juga memberikan edukasi, memantau tekanan darah, meningkatkan kepatuhan minum obat, membantu mengenali efek samping, dan bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain dalam manajemen hipertensi.

Percakapan singkat di meja pelayanan sering kali menjadi kesempatan terbaik untuk mengingatkan pasien agar tidak menghentikan obat tanpa berkonsultasi, tetap melakukan kontrol rutin, dan memahami tujuan terapi yang sedang dijalani.

Catatan Ahmad Subagiyo

Selama lebih dari dua dekade bekerja sebagai apoteker, saya semakin yakin bahwa hipertensi bukan penyakit yang paling menakutkan karena gejalanya, melainkan karena sifatnya yang “diam”. Banyak pasien datang setelah mengalami komplikasi, padahal peluang untuk mencegahnya sebenarnya sudah ada sejak lama melalui pemeriksaan tekanan darah sederhana.

Saya sering mengatakan kepada mahasiswa bahwa alat tensimeter mungkin terlihat sederhana, tetapi informasi yang dihasilkannya dapat menyelamatkan kehidupan seseorang. Tidak semua penyakit dapat dicegah dengan mudah, tetapi hipertensi termasuk kondisi yang peluang pencegahannya cukup besar apabila kita mau mengenalinya lebih awal.

Mungkin karena tidak menimbulkan rasa sakit, banyak orang memilih menunda pemeriksaan. Padahal tubuh sebenarnya sedang memberi kesempatan kepada kita untuk bertindak sebelum terlambat.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *