CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – Dr. Chris Alderman mengawali paparannya dengan mengingatkan bahwa pasien lanjut usia hampir selalu datang dengan berbagai tantangan sekaligus. “Multimorbidity is the rule,” ungkapnya, menegaskan bahwa memiliki lebih dari satu penyakit kronis merupakan kondisi yang umum pada lansia.
Selain itu, perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik, polifarmasi, hingga sulitnya melakukan deprescribing membuat terapi pada kelompok usia ini jauh lebih kompleks dibandingkan pasien dewasa muda.
Alderman memaparkan salah satu contoh yaitu kasus seorang perempuan berusia 70 tahun yang mengalami depresi, hipertensi, dan diabetes melitus. Awalnya pasien mengonsumsi metoprolol, metformin, aspirin, dan duloxetine. Namun setelah ditambahkan risperidone dan fluoxetine, kondisi pasien berubah drastis.
Tekanan darahnya turun hingga 95/45 mmHg, denyut jantung melambat menjadi 40 kali per menit, muncul gejala menyerupai Parkinson, serta pasien tampak menarik diri dan gelisah. Kasus ini menunjukkan bahwa penambahan obat tanpa evaluasi menyeluruh dapat memicu drug-related problems yang serius pada lansia.
Insight Ahmad Subagiyo
Menurut saya, kasus seperti ini mengingatkan bahwa keberhasilan terapi bukan diukur dari banyaknya obat yang diberikan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang benar-benar dirasakan pasien. Pada lansia, setiap penambahan satu obat seharusnya selalu disertai pertanyaan sederhana: “Apakah obat ini benar-benar diperlukan?”
Evaluasi rutin terhadap seluruh regimen terapi, kolaborasi antarprofesi, dan keberanian melakukan deprescribing bila diperlukan merupakan bagian penting dari patient safety. Kadang-kadang, mengurangi satu obat justru menjadi keputusan klinis terbaik.













