CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – Masih banyak orang membayangkan rumah sakit sebagai tempat dokter mengambil semua keputusan, sementara profesi kesehatan lainnya sekadar menjalankan instruksi. Padahal, pelayanan kesehatan modern sudah lama bergerak meninggalkan pola tersebut.
Dalam materi Kolaborasi Apoteker dalam Tim Patient Centered Care (PCC), Dr. Djoni Darmadjaja menegaskan bahwa tujuan utama pelayanan rumah sakit bukan sekadar mengobati penyakit, melainkan memberikan pelayanan yang berpusat pada pasien (patient-centered care) dengan mengutamakan mutu dan keselamatan pasien. Bahkan, ia mengingatkan kembali prinsip WHO bahwa “Safety is a fundamental principle of patient care and a critical component of quality management.”
Menurut Dr. Djoni, pasien tidak pernah menjalani “pendidikan menjadi pasien”. Ketika masuk rumah sakit, mereka sering merasa bingung, takut, dan tidak memahami apa yang sedang terjadi. Karena itu, setiap tenaga kesehatan—dokter, perawat, apoteker, ahli gizi, fisioterapis, hingga profesi lainnya—harus bekerja sebagai satu tim yang saling melengkapi, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Dalam model ini, apoteker bukan hanya menyerahkan obat, tetapi aktif mengidentifikasi drug related problems, memberikan rekomendasi terapi, memantau efek samping, hingga memastikan pasien memahami pengobatannya sebelum pulang dari rumah sakit.
Yang menarik, Dr. Djoni juga menampilkan contoh nyata bagaimana catatan seorang farmasis mampu mengubah keputusan terapi. Ketika seorang pasien mengalami mual dan iritasi lambung akibat penggunaan steroid dosis tinggi, farmasis mengusulkan penurunan dosis kepada DPJP.
Rekomendasi tersebut kemudian menjadi bagian dari keputusan klinis yang terintegrasi bersama dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya. Inilah wajah pelayanan kesehatan yang sebenarnya: bukan siapa yang paling berkuasa, melainkan siapa yang paling mampu berkolaborasi demi keselamatan pasien.
Insight Ahmad Subagiyo: Bagi saya, kolaborasi tidak dimulai di ruang rapat, tetapi di rekam medis pasien. Ketika seorang apoteker berani menyampaikan analisis yang berbasis bukti, dan profesi lain bersedia mendengarkan tanpa ego sektoral, saat itulah Patient Centered Care benar-benar hidup. Pada akhirnya, pasien tidak peduli siapa yang paling hebat di rumah sakit. Yang mereka harapkan hanya satu: pulang dengan kondisi yang lebih baik dan lebih aman daripada saat mereka datang.













