CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – Dalam materinya mengenai Manajemen Lean dalam Farmasi Rumah Sakit, Apt. Rini Isyana Wardani, S.Farm. menjelaskan bahwa dunia kesehatan masih menyimpan banyak aktivitas yang tidak memberikan manfaat langsung bagi pasien (non-value-added activities).
Ia mengutip data bahwa sekitar 30% biaya kesehatan digunakan untuk aktivitas yang sebenarnya tidak memberikan nilai bagi pasien. Bahkan penelitian lain menunjukkan hanya sekitar 18% waktu kerja di rumah sakit yang benar-benar digunakan untuk aktivitas yang memberi manfaat langsung kepada pasien, sementara sebagian besar waktu lainnya habis untuk aktivitas administratif, perpindahan, menunggu, atau pekerjaan yang harus diulang.
Menurut Rini Isyana Wardani, inti dari Lean Management bukan membuat tenaga kesehatan bekerja lebih cepat, melainkan menghilangkan pemborosan sehingga waktu tenaga kesehatan dapat digunakan untuk aktivitas yang benar-benar bernilai bagi pasien.
Dalam presentasinya ia mengutip definisi Christian Walcott bahwa lean merupakan “pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi dan menghilangkan aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah melalui perbaikan berkelanjutan.” Dengan kata lain, jika suatu proses hanya membuat pasien menunggu lebih lama tanpa meningkatkan mutu pelayanan, maka proses tersebut layak dievaluasi.
Insight Ahmad Subagiyo
Sebagai seorang apoteker, saya melihat keluhan pasien tentang “obat lama keluar” sering kali bukan persoalan kecepatan petugas, tetapi persoalan desain sistem kerja. Menambah jumlah pegawai belum tentu menyelesaikan masalah jika alurnya masih berputar-putar.
Sebaliknya, ketika proses dibuat lebih sederhana, tugas dibagi lebih tepat, dan aktivitas yang tidak perlu dihilangkan, pasien akan merasakan manfaatnya secara langsung. Pada akhirnya, pelayanan farmasi yang baik bukanlah pelayanan yang paling sibuk, melainkan pelayanan yang mampu menggunakan setiap menit untuk sesuatu yang benar-benar bermanfaat bagi pasien.













