Pasien Stroke Bukan Nakal, Mungkin Sudah Lelah Minum Obat

Di balik terapi jangka panjang, ada rasa lelah, bosan, dan hambatan yang sering luput didengar tenaga kesehatan.

Farmasi Klinik37 Dilihat
banner 468x60

CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – “Bu, obatnya masih diminum rutin?” Pasien terdiam sebentar. Tangannya memainkan ujung plastik obat yang dibawanya. “Sudah nggak, Pak. Capek. Tiap hari obat terus. Sudah bertahun-tahun. Saya juga merasa baik-baik saja.”

Nah, kalau mendengar jawaban seperti ini, jangan buru-buru mengeluarkan stempel PASIEN TIDAK PATUH. Bisa jadi pasien bukan nakal, bukan bandel, dan bukan tidak peduli dengan kesehatannya. Ia hanya lelah menjalani terapi yang terasa tidak pernah selesai.

banner 336x280

Dalam paparan Sylvi Irawati dari Fakultas Farmasi Universitas Surabaya, ada tiga istilah yang menarik: compliance, adherence, dan persistence. Compliance menggambarkan pasien yang mengikuti instruksi secara lebih pasif. Adherence sudah melibatkan keputusan aktif pasien untuk mengikuti rencana terapi yang disepakati.

Sementara persistence adalah kemampuan untuk terus menjalani pengobatan dalam jangka panjang. Contoh yang diberikan sederhana tetapi menohok: pasien masih tetap minum obatnya lima tahun setelah mengalami stroke pertama. Jadi, rajin minum obat selama seminggu mungkin mudah. Sebulan? Masih semangat. Tetapi bertahun-tahun? Nah, di situlah drama sebenarnya dimulai.

Data yang ditampilkan Sylvi juga menarik. Pada grafik halaman 9, tiga tahun setelah stroke, persistensi penggunaan obat berbeda-beda: sekitar 85% pada antiplatelet, 89% obat penurun lipid, 91% antihipertensi, 92% antikoagulan, dan 94% obat antidiabetes. Angka itu terlihat tinggi, tetapi pesan di baliknya jelas: tidak semua pasien mampu terus bertahan menjalani terapi jangka panjang.

Menurut penjelasan Sylvi, kepatuhan pasien pascastroke dapat dipengaruhi banyak hal, mulai dari gangguan kognitif, kemampuan menelan, usia, literasi kesehatan, keyakinan terhadap obat, efek samping, jumlah obat yang harus diminum, hingga komunikasi dan kesinambungan pelayanan kesehatan.

Karena itu, kalimat “Pasiennya bandel, Pak. Obatnya nggak diminum,” rasanya perlu kita pensiunkan pelan-pelan. 😄 Coba ganti pertanyaannya. Bukan, “Kenapa Ibu tidak patuh?” tetapi, “Apa yang paling berat dari minum obat setiap hari?” Bisa jadi jawabannya mengejutkan. “Saya takut ginjal rusak.” “Obatnya kebanyakan.” “Saya sering lupa.” “Saya susah menelan.” Atau sesederhana, “Saya capek, Pak.” Secara tidak langsung, Sylvi menekankan bahwa memahami faktor penghambat kepatuhan merupakan bagian penting dalam pencegahan stroke berulang.

Lalu, apakah cukup dinasihati, “Pokoknya obat harus diminum!”? Belum tentu. Materi Sylvi membahas berbagai pendekatan, mulai dari self-management, Motivational Interviewing, intervensi multimodal, hingga pengingat melalui SMS.

Pada salah satu penelitian yang dipaparkan, pesan pengingat obat dan informasi kesehatan yang disesuaikan diberikan selama delapan minggu, dengan tingkat kepuasan dan penerimaan peserta mencapai 96%. Pesannya sederhana: pasien mungkin tidak membutuhkan ceramah, tetapi membutuhkan sistem yang membantunya bertahan.

Di sinilah apoteker seharusnya hadir. Bukan sebagai polisi obat yang sibuk mencari siapa yang salah, tetapi sebagai tenaga kesehatan yang membantu pasien memahami terapinya. Dalam program pharmaceutical care yang dibahas Sylvi, apoteker tidak hanya menjelaskan nama dan dosis obat.

Edukasi mencakup manfaat terapi, efek yang diharapkan, potensi efek samping, apa yang harus dilakukan bila efek samping muncul, hingga pemantauan tekanan darah dan gula darah. Bahkan edukasi dapat dilakukan berulang melalui konsultasi langsung, telepon, maupun media komunikasi lainnya. Karena mempertahankan pasien tetap menjalani terapi memang bukan pekerjaan sekali ketemu lalu selesai.

Ada satu kutipan dari Dr. C. Everett Koop yang dicantumkan pada slide terakhir materi Sylvi: “Drugs don’t work in patients who don’t take them.” Obat tidak bekerja pada pasien yang tidak meminumnya. Tetapi saya ingin menambahkan satu pertanyaan: sudahkah kita mencari tahu mengapa pasien akhirnya tidak sanggup terus meminumnya?

Jadi, kalau suatu hari bertemu pasien pascastroke yang berhenti minum obat, tahan dulu keinginan untuk menghakimi. Dengarkan. Tanya. Cari hambatannya. Bantu mencari jalan keluarnya bersama dokter dan tim kesehatan. Sebab pasien stroke mungkin bukan nakal. Ia mungkin hanya lelah. Dan kadang-kadang, agar pasien mampu bertahan menjalani terapi bertahun-tahun, yang dibutuhkan bukan tambahan ceramah—tetapi tenaga kesehatan yang mau berjalan bersamanya.

Apoteker Subagiyo
Sahabat Sehat, Terapi Tepat

#MakePharmacistMoreExist

Subagiyo.com — Belajar Farmasi Tanpa Ribet, Tetap Berbobot.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *