Pelayanan Farmasi yang Baik Tidak Dibuktikan dengan Kata-Kata, tetapi dengan Angka

Pernahkah Anda mendengar kalimat, "Pelayanan kami sudah baik." Hampir semua fasilitas kesehatan pernah mengucapkannya. Namun dalam dunia mutu pelayanan, pernyataan seperti itu belum cukup.

Farmasi Klinik57 Dilihat
banner 468x60

CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – Sebuah pelayanan baru dapat disebut berkualitas jika ada data yang membuktikannya. Berapa lama pasien menunggu obat?

Berapa kali terjadi medication error? Berapa persen obat tersedia saat dibutuhkan? Semua pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban yang terukur, bukan sekadar pendapat.

banner 336x280

Dalam materi Pemilihan dan Pengukuran Indikator Mutu Pelayanan Farmasi, Yulia Trisna menjelaskan bahwa indikator mutu merupakan parameter terukur yang menggambarkan faktor-faktor penting dalam kinerja pelayanan farmasi.

Tujuannya bukan untuk mencari kesalahan, melainkan meningkatkan akuntabilitas, transparansi, dan mutu pelayanan secara berkesinambungan.

Ia juga menegaskan bahwa indikator yang baik harus memenuhi prinsip SMART: Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan memiliki Timeframe yang jelas sehingga benar-benar dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Lebih jauh lagi, Yulia Trisna mengingatkan bahwa tidak semua hal perlu diukur, tetapi hal-hal yang paling berpengaruh terhadap pasien harus menjadi prioritas.

Kecepatan pelayanan resep, ketersediaan obat, kepuasan pasien, penggunaan antibiotik, medication error, hingga penggunaan obat high alert merupakan contoh indikator yang layak dipantau karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien dan mutu pelayanan.

Setelah indikator dipilih, data tidak boleh langsung dipercaya begitu saja. Data harus dikumpulkan dengan metode yang jelas, divalidasi, dianalisis menggunakan run chart, diagram batang, atau metode statistik lainnya, kemudian dibandingkan dari waktu ke waktu maupun dengan standar dan best practice. Dengan cara itulah angka berubah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk memperbaiki pelayanan.

Insight Ahmad Subagiyo

Selama menjadi apoteker dan dosen, saya sering menjumpai satu kebiasaan yang perlu diubah: kita lebih senang menceritakan keberhasilan daripada mengukurnya. Padahal, mutu pelayanan tidak lahir dari asumsi, tetapi dari keberanian melihat data apa adanya.

Jika waktu tunggu obat masih panjang, akuilah. Jika angka medication error meningkat, pelajarilah penyebabnya. Jika kepuasan pasien menurun, dengarkan keluhan mereka. Angka bukan untuk mempermalukan siapa pun, melainkan menjadi kompas yang menunjukkan ke mana pelayanan harus diperbaiki.

Pada akhirnya, pasien tidak pernah datang ke rumah sakit untuk melihat grafik atau laporan indikator mutu. Namun mereka akan merasakan hasilnya ketika pelayanan menjadi lebih cepat, lebih aman, lebih ramah, dan lebih dapat dipercaya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *