Mesin Bisa Ditambah. SDM Bisa Direkrut. Tapi Ada Satu Sumber Daya GMP yang Tidak Bisa Dibeli

Mengapa perhatian (attention) justru menjadi aset paling berharga dalam sistem mutu modern?

banner 468x60

CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – Selama bertahun-tahun, ketika berbicara mengenai sumber daya di industri farmasi, perhatian kita hampir selalu tertuju pada hal-hal yang mudah dihitung: jumlah personel, kapasitas produksi, investasi peralatan, anggaran validasi, atau teknologi terbaru.

Tidak mengherankan, karena semua itu memang dapat diukur dengan angka. Namun, ada satu sumber daya yang sangat menentukan kualitas sistem mutu, tetapi hampir tidak pernah masuk dalam laporan manajemen, yaitu perhatian (attention).

banner 336x280

Dalam refleksinya, Henrik Johanning, Senior Vice President (SVP) of Quality & Strategy di Epista Life Science, menyampaikan sebuah pernyataan yang sederhana namun sangat mendalam: “Attention may be one of the most underestimated GMP resources we have.”

Menurutnya, perhatian bukan sekadar kemampuan seseorang untuk fokus bekerja, tetapi merupakan kapasitas organisasi untuk memahami risiko, menghubungkan berbagai informasi, mempertanyakan asumsi, dan mengambil keputusan yang tepat. Di tengah derasnya tuntutan regulasi, implementasi AI, digitalisasi, validasi sistem, hingga tekanan target produksi, perhatian menjadi sumber daya yang semakin langka.

Henrik Johanning menjelaskan bahwa organisasi yang kehilangan perhatian akan tetap terlihat aktif. Deviasi tetap diinvestigasi, CAPA tetap dibuat, audit tetap berlangsung, dan laporan tetap selesai tepat waktu. Namun di balik aktivitas tersebut, kualitas pengambilan keputusan perlahan menurun.

Hubungan antara keluhan pelanggan, tren deviasi, hasil environmental monitoring, temuan validasi, hingga hasil audit pemasok tidak lagi dipandang sebagai satu kesatuan informasi. Organisasi akhirnya hanya bereaksi terhadap masalah yang muncul, bukan mengantisipasi risiko yang akan datang. Sistem mutu tetap berjalan, tetapi berhenti belajar.

Fenomena tersebut semakin relevan bagi industri farmasi Indonesia yang saat ini menghadapi tantangan transformasi digital, penerapan teknologi berbasis AI, penguatan budaya mutu, dan meningkatnya ekspektasi regulator.

Di tengah semua perubahan itu, perusahaan sering berlomba membeli perangkat lunak baru, membangun dashboard yang lebih canggih, atau mempercepat otomatisasi proses. Semua itu penting, tetapi tidak akan menghasilkan keputusan yang lebih baik apabila organisasi kehilangan waktu untuk berdiskusi, melakukan refleksi, dan berpikir secara kritis. Teknologi dapat membantu mengolah data, tetapi perhatian tetap menjadi tanggung jawab manusia.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *