CILEUNGSI, SUBAGIYO DOT COM – Dalam presentasinya, Dr. Chris Alderman memperlihatkan sebuah grafik sederhana tetapi sangat bermakna. Grafik tersebut menunjukkan bahwa jumlah drug-related problems meningkat tajam seiring bertambahnya jumlah obat yang dikonsumsi pasien.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa polifarmasi bukan sekadar persoalan jumlah obat, melainkan meningkatnya peluang interaksi obat, efek samping, duplikasi terapi, hingga kesalahan penggunaan obat.
Dr. Alderman bahkan mengajak peserta berpikir melalui sebuah pertanyaan yang cukup provokatif, “What is the most dangerous drug for older people?” Ia kemudian menyebut berbagai kelompok obat seperti warfarin, insulin, kalium, narkotika, kemoterapi, antidepresan, hingga antipsikotik.
Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk mencari satu jawaban benar, melainkan menegaskan bahwa hampir semua obat dapat menjadi berbahaya apabila digunakan tanpa mempertimbangkan kondisi klinis pasien lanjut usia.
Insight Ahmad Subagiyo
Menurut saya, pesan paling penting dari materi ini adalah bahwa tidak ada obat yang benar-benar aman jika digunakan pada pasien yang salah atau dalam kondisi yang tidak tepat. Oleh karena itu, tenaga farmasi memiliki peran strategis untuk melakukan medication review secara berkala.
Prinsip “obat yang tepat, untuk pasien yang tepat, dengan dosis yang tepat” menjadi semakin relevan ketika kita berhadapan dengan populasi lansia yang rentan.













